cukupkah cinta

hmm… kemaren sore di kantor, dari mejaku terdengar suara radio yang diputer ama rekan sekerja, suara seorang cewek lg cerita dengan suara lirih di radio itu… kurang lebih seperti ini..

alkisah ada seorang gadis buta dan seorang pria.
si pria telah cukup lama mendampingi sang gadis buta.
dan sang gadis pun telah lama bergantung pada pria itu.
seakan sang gadis tak mampu melakukan apapun tanpa si pria itu.
suatu hari..

pria : “aq sudah lama bersamamu, maukah kau menikah denganku?”
gadis : “jika aku sudah dapat melihat dunia. q mau menikah denganmu”
tak lama kemudian sang gadis mendapat donor mata dan dioperasilah sang gadis sehingga dia memiliki mata yang normal dan dapat melihat dunia..
pria : “kamu sudah bisa melihat dunia… sekarang… maukah kau menikah denganku?”
sang gadis sangat terperanjak, dia kaget bukan main sambil berkata “TIDAK!… aq tau mau menikah dengan pria buta”
si pria kemudian pergi selamanya dan meninggalkan sepucuk surat yang berisi…
“Kamu sekarang sudah bisa melihat dunia… jagalah mataku baik-baik”…

mmm… terkesan seperti “cinta itu buta” ya?
atau mungkin terdengar seperti “kekonyolan cinta” ? :)
meskipun berkorban mata… tapi itu tak cukup untuk membuat sang gadis mencintai si pria dengan konsisten…

setiap pulang kerja, menuju tempat parkir di samping kantor yang berhadapan dengan beberapa rumah warga…
setiap sore itu juga tampak seorang ibu yang berkerudung panjang pulang dari kerja… wajahnya selalu tampak sabar dan tenang.. dan setiap sore itu pun anak laki-laki nya yang berumur sekitar 2-3 tahun selalu berlari menyambutnya sambil berteriak “mamaa…” dan meminta gendong…

sepertinya cinta antara sang anak dan ibu mampu membuat si ibu selalu pulang tepat waktu karena tau bahwa pada jam itu sang anak telah menunggu untuk menyambutnya…

cinta yang didapat sang ibu dari anak tersebut, bukan berarti tanpa pengorbanan untuk mendapatkan dan mempertahankannya. sang ibu pastinya selama ini harus memastikan dia pulang tepat waktu, entah seberapapun banyaknya kerjaan yang menuntutnya di tempat kerja, atau hujan saat pulang kerja, atau ada masalah lain yang menghambatnya pulang tepat waktu… yang jelas, sang ibu telah berkorban banyak hal untuk mendapat cinta yang konsisten dari si anak…

dari dua contoh diatas udah jelas klo cinta butuh pengorbanan, karena problem nya bukan hanya anda yang mencintai tapi bagaimana cara anda mendapatkan cinta yang otomatis perlu pengorbanan.
Mungkin tidak jauh beda dengan seseorang yang mengorbankan waktu untuk kerja mencari uang siang dan malam, mungkin sedikit waktu baginya untuk menikmati kesenangan diluar pekerjaan, tapi kesempatan baginya untuk mendapat uang jadi lebih besar daripada orang yang kerjanya biasa-biasa saja atau malah malas-malasan…

mungkin pria di contoh pertama tampak seperti tidak mendapat keuntungan apa-apa dari “pengorbanan demi cinta” nya, tapi… jangan salah, suatu saat akan ada orang yang mencintainya meskipun buta, bisa jadi gadis yang mencintainya memiliki rasa cinta lebih daripada sang gadis yang telah mendapat donor mata dan menolaknya mentah-mentah. dan si pria tak perlu kuatir akan pengkhianatan sang gadis di masa mendatang, karena sudah tau sifat asli dari gadis yang hanya “cinta karena fisik”.

yang pasti… pengorbanan identik dengan usaha, berusaha, berjuang, sejenisnya, sudah umum untuk berbagai hal lain, untuk mendapatkan sesuatu perlu usaha, gak mungkin kan malas-malasan tapi mau mendapatkan sesuatu yang lebih, sebanding lah….
apa yang kita dapat, ya sebanding dengan seberapa keras kita berusaha, cuma sayangnya secara umum dalam urusan cinta orang-orang biasa menerjemahkan nya dengan kata “berkorban” hehehe…

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>