Mau Marah

Kemarahan umumnya adalah reaksi alami terhadap rasa sakit ataupun dari sebab-sebab yang lain (misal: fisik atau emosional). Kemarahan bisa terjadi ketika orang merasa tidak enak, merasa ditolak, merasa terancam, atau mengalami berbagai kerugian.


Bukan jenis dari rasa sakit yang menjadi masalah, akan tetapi rasa sakit yang dialami justru menimbulkan perasaan tidak menyenangkan. Karena kemarahan tidak pernah terjadi dengan sendirinya melainkan harus didahului dengan perasaan nyeri, maka kemarahan sering disebut sebagai emosi ‘secondhand’.

Sakit saja tidak cukup untuk menyebabkan kemarahan. Kemarahan terjadi ketika rasa sakit dikombinasikan dengan pikiran yang memicu kemarahan. Contoh pikiran yang dapat memicu kemarahan adalah penilaian pribadi, asumsi, evaluasi, atau interpretasi situasi yang membuat orang berpikir bahwa seseorang mencoba (secara sadar ataupun tidak) untuk menyakiti mereka. Dalam hal ini, kemarahan merupakan emosi sosial; Anda selalu memiliki target untuk menjadi tujuan kemarahan (bahkan bisa juga target itu adalah diri sendiri). Perasaan sakit, dikombinasikan dengan pikiran yang memicu kemarahan dapat memotivasi Anda untuk melakukan suatu tindakan, memasang wajah yang menyeramkan dan mempertahankan diri melawan apapun yang Anda duga telah menyebabkan rasa sakit.

Pengganti Emosi

Kemarahan juga bisa menjadi pengganti emosi. Maksudnya adalah.. kadangkala seseorang membuat diri mereka marah sehingga mereka tidak perlu merasa sakit. Perasaan sakit mereka ditransformasi menjadi kemarahan karena merasa lebih baik untuk marah daripada berada dalam perasaan sakit. Secara sadar ataupun tidak ini bisa dan umumnya terjadi.

Keunggulan untuk merasa marah daripada harus merasa sakit adalah… Orang yang sakit pada umumnya berpikir tentang rasa sakit mereka. Namun, orang yang marah berpikir tentang menyakiti orang-orang yang telah menyebabkan sakit. Bagian dari transmutasi sakit menjadi kemarahan ini menyebabkan suatu pergeseran perhatian – yaitu dari fokus kepada diri menjadi fokus kepada yang lain. Kemarahan untuk sementara dapat melindungi dari rasa sakit yang secara nyata harus dihadapi; Membuat marah diri sendiri dapat membantu Anda untuk menyembunyikan kenyataan bahwa Anda sedang dalam posisi lemah.

Selain menyamarkan kelemahan Anda, marah juga menimbulkan perasaan bahwa diri berada di posisi yang paling benar, berkuasa juga superioritas moral daripada harus merasa kesakitan dan tampak tak berdaya. Ketika Anda marah, ada yang menyebabkan Anda marah. Contoh : “Orang-orang yang telah menyakiti saya adalah bersalah – mereka harus dihukum”. Kemarahan sangat jarang terjadi jika tak ada seorangpun atau sesuatu yang memicunya.

Terlepas dari apakah dibenarkan atau tidaknya kemarahan Anda. Kemarahan tidak dapat membuat rasa sakit hilang – hanya mengalihkan perhatian Anda dari dari rasa sakit itu untuk sementara waktu. Kemarahan umumnya tidak menyelesaikan atau mengatasi masalah yang menjadi pemicu amarah itu sendiri, justru kemarahan dapat menciptakan masalah baru, termasuk masalah sosial dan kesehatan Anda sendiri.

Meski dibalik semua kenaturalan perasaan marah namun saat kemarahan sudah tidak dapat dikendalikan dan cenderung mengakibatkan tindakan destruktif maka semua itu akan menjadi masalah untuk hubungan antar manusia ataupun kualitas hidup Anda. Karenanya rasa marah juga perlu dikendalikan…

Kendalikan Amarah sebelum Amarah mengendalikan Anda.

Kita tidak bisa secara fisik menyerang apa atau siapa yang menyebabkan kemarahan, hal ini terkait dengan, hukum yang berlaku, norma-norma sosial, dan batasan-batasan tempat umum.

Ada 3 pendekatan utama yang dapat digunakan untuk menangani amarah :

  • mengekspresikan
  • menekan
  • menenangkan

Mengekspresikan :

mengekspresikan rasa marah dengan cara perilaku asertif bukan agresif.

Rathus (1981) : asertifitas adalah kemampuan mengekspresikan perasaan, membela hak secara sah dan menolak permintaan yang dianggap tidak layak serta tidak menghina atu meremehkan orang lain”.

Intinya asertif adalah mampu mengekspresikan perasaan, pikiran, atau apapun yang Anda anggap benar secara tegas namun tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.

Menekan :

kemarahan dapat ditekan kemudian dirubah lalu diarahkan. Caranya saat Merasa marah dan memendam perasaan marah itu, segera berhenti berpikir tentang kemarahan tersebut lalu segera fokus kepada hal atau kegiatan positif, sehingga perasaan marah Anda dapat berubah menjadi sesuatu yang sifatnya konstruktif.

Namun tindakan “menekan” ini berbahaya apabila tidak segera dirubah dan dialihkan untuk melakukan sesuatu yang positif, karena saat dipendam terlalu lama maka kemarahan akan berbalik ke diri sendiri dan dapat menyebabkan kerugian secara fisik, misalnya hipertensi, tekanan darah tinggi, atau depresi.

Ataupun kerugian secara mental, contohnya sikap pasif-agresif (kecenderungan untuk melarikan diri tanpa penjelasan daripada berkonfrontasi dengan seseorang). Atau cenderung untuk bersikap dan berkomentar sinis secara terus menerus terhadap banyak hal. Atau dapat juga berakibat memiliki sifat yang seakan selalu memusuhi terhadap apapun sehingga tidak memiliki banyak relasi.

Menenangkan :

Akhirnya, Anda dapat menemukan ketenangan. Yang artinya, anda bukan hanya mengontrol perilaku lahiriah Anda, tetapi juga mengendalikan respons internal Anda, mengambil langkah untuk menurunkan detak jantung Anda, menenangkan diri, dan membiarkan perasaan mereda.

Dr Spielberger mencatatkan juga, “ketika tidak satupun dari tiga teknik diatas berhasil, maka seseorang atau sesuatu akan terluka.”

Rujukan :

  • Harry Mills, Ph.D. (MentalHelp)
  • Charles Spielberger, PhD (American Psychological Associaton )
Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>